KH Noer Muhammad Iskandar SQ dalam Kenangan

KH Noer Muhammad Iskandar SQ

“Abah KH Noer Muhammad Iskandar, SQ berpulang ke hadirat Ilaahi Rabb pada Ahad 13 Desember 2020, hari di mana udara sedari pagi terasa sangat sejuk. Semesta seolah memberi pertanda, salah satu putra terbaik bangsa akan menghadap Sang Pencipta”


Dalam ingatan saya, di tahun 1994-an ada dua tokoh muslim yang terkenal seantero Indonesia. Yang satu dikenal karena gelar ‘dai sejuta umat’, tentu kita mafhum siapa sosok ini. Yang satunya lagi dikenal sebagai pemimpin pondok pesantren modern yang berhasil membiasakan Bahasa Arab-Inggris dan pendawaman sholat tahajjud bagi santri-santrinya.

Tokoh yang saya sebutkan terakhir itu tak lain adalah Abah KH Noer Muhammad Iskandar, SQ. Beliau telah berpulang ke hadirat Ilaahi Rabb pada Ahad 13 Desember 2020, hari di mana udara sedari pagi terasa sangat sejuk. Semesta seolah memberi pertanda, salah satu putra terbaik bangsa akan menghadap Sang Pencipta.

Sebagai alumni, sudah pasti sedih. Rasa kehilangan pun tak terelakkan. Dan seketika, semua kenangan tentang beliau dan pesantren tercinta hadir dalam lintasan-lintasan peristiwa. Mirip kolase foto dan potongan-potongan film pendek dalam timeline ingatan saya. Maka, hadirlah testimoni ini.

Bukan tanpa alasan bila di awal tulisan saya menyebut beliau sebagai pemimpin pesantren yang berhasil membiasakan Bahasa Arab dan Inggris (tanpa mengecilkan peran pesantren lain yang mungkin sudah lebih dulu menerapkan pola pendidikan ini) sebagai bahasa sehari-sehari santri, dan pendawaman sholat tahajjud yang alhamdulillah membekas dalam benak saya sampai hari ini.

Abah Noer Muhammad Iskandar SQ dan Asshiddiqiyah

Dalam lomba antar pesantren di Jabotabek, terutama pada kategori pidato Bahasa Arab-Inggris, santri dari Asshiddiqiyah selalu mendominasi. Kalau tak juara satu, pasti juara umum. Ini saja cukup untuk membuktikan ‘sedikit’ dari banyak keberhasilan Abah sebagai pemimpin Asshiddiqiyah.

Indikasi lainnya adalah nama Asshiddiqiyah yang selalu hadir dalam daftar pesantren modern favorit. Demikian yang kami sekeluarga ketahui dan rasakan, yang notabene kami tinggal di sebuah kecamatan kecil nan sepi (waktu itu) di Karawang, Jawa Barat.

Saya bungsu dari tujuh bersaudara. Kami semua selepas sekolah dasar melanjutkan pendidikan ke pesantren. Ada yang di Cirebon, Tasik Malaya, Sukabumi, Bogor, dan saya akhirnya memilih Asshiddiqiyah Jakarta. Awalnya mendaftar di pusat, tapi kemudian dialihkan ke Asshiddiqiyah Batu Ceper, Tangerang karena jenjang SMP/MTs baru buka di sana. Maka, jadilah saya angkatan perdana SMP/MTs Asshiddiqiyah Batu Ceper.

Dalam obrolan keluarga untuk menentukan pesantren mana yang akan kami pilih, nama Asshiddiqiyah selalu hadir. Dan nama Abah pun tak luput menjadi tema diskusi. “Itu loh pesantren modern pimpinan Kyai Iskandar SQ, yang sehari-harinya memakai Bahasa Arab dan Inggris, yang jago ceramah, yang lulusannya mudah ke Saudi atau Mesir…”

Abah dan Asshiddiqiyah adalah satu. Ketika orang menyebut nama beliau, yang lantas mengiringi ingatan adalah nama Asshiddiqiyah. Begitu pula sebaliknya.

Artikel lain: Semangat Tinggi untuk Ilmu, Umat, dan NU

Berdasarkan ingatan saya, beliau adalah sosok kyai yang gigih. Berjuang tanpa pamrih untuk kemajuan pesantren. Kita dapat belajar banyak hal dari beliau karena beliau selalu mempraktikkan sendiri apa yang beliau anjurkan. Dalam hal sholat tahajjud dan berjamaah misalnya. Masih segar dalam ingatan bagaimana beliau mengimami kami, memimpin dzikir tiap kali selesai sholat berjamaah, meski kondisi kesehatan beliau dalam keadaan yang tak prima. Kegigihan seperti itu tak akan tampak bila tidak ada niat dan komitmen pribadi yang kokoh.

Khusus tentang sosok Abah, ada tiga hal yang akan selalu saya kenang. Pertama, tanggal lahir beliau sama dengan tanggal lahir saya: 5 Juli. Tiap kali berulang tahun, saya akan selalu ingat beliau selamanya.

Kedua, momen ketika wukuf di musim haji 2015. Saat itu, menantu dan keponakan beliau, KH Hasan Nuri Hidayatullah (Gus Hasan, sekarang ketua PWNU Jawa Barat) adalah pemimpin kloter kami. Di momen wukuf itu, beliau mendapat kabar bahwa Abah masuk ICU. Beliau lantas mengumpulkan jamaah di salah satu sudut tenda, dan menyampaikan permohonan agar jamaah mendoakan kesehatan Abah.

Dalam halaqoh kecil itu, batin saya sontak serasa berkoneksi dengan Abah. Saya dapat merasakan keadaan beliau yang tengah berjuang melawan sakit, dan kesedihan keluarga ndalem. Maka jadilah kami menangis saat melantunkan doa, di sudut tenda di padang Arafah.

Ketiga, momen perjumpaan terakhir dengan Abah Noer pada Maret 2020 di acara Harlah ke 35 Asshiddiqiyah. Kami sempat berfoto bersama, mendapatkan wejangan, dan beliau berkenan mendoakan putri kami hal-hal baik dan keberkahan hidup.

Abah Noer Hadir di Al-Fathimiyah

Sebagai tambahan, Abah pernah hadir di Pondok Pesantren Al-Fathimiyah dalam hajatan Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) ke-2 Majelis Silaturahmi Kyai Pengasuh Pondok Pesantren se-Indonesia (MSKP3I), Rabu, 26 Maret 2014. Beliau masih tampak sangat bugar saat itu. Sillaturrahmi Menteri Agama dan Menteri Perumahan Rakyat RI di Pondok Pesantren Al-Fathimiyah

Selamat jalan Abah. Ananda bersaksi engkau sebaik-baik pemimpin kami, santri-santrimu yang tersebar ke seantero Bumi. Allahu yarhamukum fiddiin, waddunya, wal akhiroh…. Aamiin.

Karawang, 16 Desember 2020

Hj. Ade Sadiyah Alumni AIC Ceper 1997 & AIC Pusat 2000

Diposting Oleh: