Doa yang tak sempat menjadi kata. Barangkali, kalimat itu kiranya cukup menjadi kesimpulan dari kisah yang akan kusampaikan ini.
Namaku Rahma. Aku santri putri sebuah pesantren tradisional yang dikelilingi pagar bambu tinggi. Hidup di sini sederhana. Penuh jadwal padat: mengaji, murojaah, hafalan. Lalu, belajar lagi hingga larut malam.
Namun, justru dalam kesederhanaan itu, aku menyimpan sebuah rahasia kecil: ada seseorang yang diam-diam membuat hatiku berdebar.
Namanya Zayn. Ia santri putra, pintar membaca kitab, dan suaranya merdu setiap kali melantunkan qira’ah. Aku mengenalnya bukan karena pernah bicara, melainkan karena sering tanpa sengaja berpapasan di momen-momen kecil.
Seperti sore itu, ketika aku menyapu halaman asrama. Di seberang pagar bambu, Zayn lewat sambil membawa seember air. Angin sore bertiup, menyibakkan daun-daun kering, dan sesaat matanya menoleh. Aku buru-buru menunduk, tapi jantungku masih saja keras berdegup.
Di pesantren, aturan jelas: santri putra dan putri tidak boleh berinteraksi bebas. Batasnya tegas, pagar bambu itu seolah menjadi saksi bisu antara dunia kami. Namun, entah mengapa, pertemuan singkat yang tak sengaja itu justru menumbuhkan sesuatu yang tak bisa kuabaikan.
Surat yang Tak Pernah Kubalas
Suatu malam, ketika membuka kitab nahwu, aku menemukan secarik kertas kecil terselip di halaman. Tulisan tangan di atasnya begitu rapi:
“Wahai saudariku dalam ilmu, semoga Allah merahmati langkahmu. Aku tahu jarak ini harus tetap ada. Tapi izinkan aku menuliskan rasa kagumku, bukan pada wajahmu, melainkan pada caramu menjaga diri. Doakan aku tetap istiqamah.”
Tanganku bergetar membaca baris-baris itu. Aku tak tahu bagaimana surat itu bisa masuk ke kitabku. Hatiku ingin menjawab, tapi akalku menahan. Aku sadar, membalasnya berarti menyalakan api yang seharusnya kujaga tetap padam.
Maka kertas itu hanya kuselipkan kembali di kitab nahwu-ku. Malam itu aku berdoa lirih: “Ya Allah, jika rasa ini salah, padamkanlah. Jika benar, jagalah ia dalam ridha-Mu.”
Doa yang Tak Sempat Menjadi Kata
Hari-hari terus berjalan. Aku berusaha menutup hati. Tapi, semakin kututup, semakin terasa ia mengetuk.
Tiap kali namanya disebut ustadz karena prestasi, dadaku bergetar. Hingga suatu sore yang tak pernah kulupa. Setelah ashar, pesantren mengumumkan kabar besar: beberapa santri akan dikirim belajar ke luar negeri. Namanya disebut pertama: Zayn bin Abdullah.
Santri putra bersorak, para ustadz memberi selamat. Dari balik jendela asrama, aku melihat Zayn menunduk haru. Senja memantulkan cahaya ke wajahnya. Indah, tapi juga menyakitkan.
Malamnya, sebuah kertas lagi kutemukan di kitabku. Singkat saja isinya:
“Aku akan berangkat. Doakan aku, wahai saudariku dalam ilmu. Jika jalan kita tak bertemu di dunia, semoga Allah mempertemukan kita di surga-Nya.”
Air mataku jatuh membasahi kertas itu. Ingin rasanya menulis balasan. Ingin rasanya berkata “Aku juga mendoakanmu.” Tapi, semua hanya kusimpan dalam hati.

Melankoli di Balik Pagar Bambu
Hari keberangkatan tiba. Dari balik pagar bambu, aku melihat rombongan santri bersiap. Zayn berjalan paling depan. Wajahnya bercahaya, hatinya penuh cita-cita.
Aku hanya bisa menatap punggungnya menjauh. Tanpa salam, tanpa ucapan perpisahan. Hanya doa yang bergema di dadaku: “Ya Allah, jagalah dia di mana pun ia berada.”
Sejak hari itu, halaman pesantren terasa lebih sepi. Pagar bambu masih berdiri. Burung perkutut masih berkicau. Tapi bagiku, ada sesuatu yang hilang.
Aku sadar, tidak semua rasa dapat kumiliki. Ada cinta yang lebih indah jika dijaga dalam doa. Juga rindu yang hanya bisa dipeluk dalam diam.
Dan setiap senja yang turun di pesantren, selalu kutatap lekat dan hati penuh harap. Tentu saja, sambil membisikkan doa yang tak pernah sempat menjadi kata. (*)
