Khazanah Islam
Kita harus bangga dengan khazanah keislaman yang kita miliki, yaitu pemahaman agama yang diwarisi oleh para ulama.

KH Said Aqil Siroj meminta umat Islam bangga dengan Khazanah Islam. Terutama bagi Nahdliyin. Hal ini karena Islam punya banyak kelebihan ketimbang agama lain. Salah satunya yaitu keunggulan Islam dalam metodologi memahami nash Al-Qur’an dan Hadits.

“Kita harus bangga dengan khazanah keislaman yang kita miliki, yaitu pemahaman agama warisan para ulama. Orang Islam punya metodologi memahami nash. Di mana hal ini agama lain tak memiliki. Mereka hanya membaca kitab sucinya.”

Dalam Islam ada ilmu yang membahas tentang Al-Qur’an yang berkaitan dengan ayat yang bermakna khos, mutasyabihat, muqayyad, hakiki, majazi, muhkamat. Dalam bahasa lain Islam mengkaji apakah ayat ini bermakna mutlak, metaforis, spesial, absolut, atau non absolut.

“Orang non Islam tidak punya ilmu ini. Adanya di pesantren, dengan nama ilmu ushul fiqih. Kita harus bangga karena pesantren punya keilmuan yang mendalam. Orang Islam selain pesantren dan Nahdlatul Ulama jarang mengkaji ilmu ini,” tambah alumni Pondok Pesantren Lirboyo ini.

Kiai Said menjelaskan, ilmu ushul fikih ini sangat penting bagi orang yang ingin mendalami agama Islam secara sempurna. Sebagai pedoman dalam berbicara, bersikap, dan memahami ayat-ayat suci.

“Memahami Al-Qur’an tanpa ushul fiqih maka salah semua. Kalau ada yang mendalami Islam tanpa ushul fiqih maka bisa melenceng. Nanti bisa salah, ayat Al-Qur’an Al-Isra ditambahi menjadi 176 dan mengartikan bahasa Arab ngawur. Model kayak begini mungkin ngaji agamanya pesantren kilat,” tegas Kiai Said.

Islam Agama Metodologis

Dijelaskan, selain metodologi memahami nash atau firman Tuhan. Islam juga punya punya metodologi memahami hadits, suatu ucapan, keputusan, perbuatan yang disandarkan kepada Rasul.

Maka pada tahap selanjutnya muncul hadits shahih, hasan, hasan lighorihi, daif. Ini tidak ada di agama lain. Lalu ada tingkat hadits yang paling baik yaitu hadits yang memuat perintah atau larangan langsung dari Nabi Muhammad, redaksinya seperti naha Rasulallah dan amara Rasulallah.

Bobot hadits pada tingkatan kedua yaitu yang memuat kata saya bersama Rasulullah, kami bersama Rasulullah saat melakukan itu atau dalam peristiwa tertentu. Dalam bahasa Arab biasanya menggunakan kata kunna ma’a Rasulillah. Baru pada tingkatan ketiga yaitu hadits yang menggunakan redaksi saya melihat Rasulullah (roaitu Rasulallah) melakukan ini atau itu.

“Tingkatan hadits nomor empat yaitu hadits yang memakai redaksi dari Fulan bin Fulan, telah berkata Nabi Muhammad SAW tentang suatu masalah,” beber Kiai Said.

Baca artikel lain: Cita-cita Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari yang Belum Terwujud

Tak berhenti di sana, Kiai Said juga menjelaskan panjang lebar dalam hal meriwayatkan khabar dan hadits Islam memiliki metode di mana periwayat sebuah hadits harus muttasil, adil, tsiqah (cerdas) dan terpercaya. Bahkan Imam Bukhori mensyaratkan muttashil fizzaman (hidup dalam waktu yang sama) dan muttashil fil makan (berada di tempat kejadian).

“Dari segi bobot makna hadits adalah ilmu yang membahas apakah hadits ini mutawatir, masyhur, aziz atau ahad. Ilmu ini ada dalam kitab musthalah hadits,” ungkapnya.

Dengan keluasaan ilmu dalam Islam, alumni Universitas Ummul Qura Mekah ini menyayangkan masih banyak orang Islam tidak percaya diri dengan kehebatan Islam. Terutama kaum pesantren yang setiap hari mengkaji ilmu ushul fiqih dan musthalah hadits.

“Ini harus kita banggakan, betul-betul kita pahami dan kita jaga. Harus percaya diri dengan hal ini. Saya berpesan, walaupun pesantren sekarang maju-maju, tapi jangan meninggalkan pelajaran ushul fiqih. Kaji ilmu ini dalam kitab yang lebih rendahan namanya Lathaiful Isyarat, naik lagi ada kitab Ghoyatul Wushul lalu kitab Jam’ul Jawami’,” tandas Kiai Said.

(Disampaikan oleh Prof. DR. KH Said Aqil Siradj, MA, saat menghadiri Haul Ke-40 KH Bisri Syansuri di Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, Jawa Timur, sebagaimana dikutip dari NU Online pada laman: https://nu.or.id/nasional/kiai-said-umat-islam-harus-bangga-dengan-khazanah-islam-TwIiC -Red)

Artikel di atas juga terbit dalam rubrik “Khazanah” Majalah Risalah Al-Fathimiyah edisi VI | Desember 2025, dan telah mengalami penyuntingan untuk keperluan SEO (Search Engine Optimization). Baca edisi online di sini.

Diposting Oleh: