Aku berjalan terlalu jauh untuk mencari-Mu. Lalu seorang pengemis di tepi jalan bertanya, “Mengapa kau mencari alamat yang bahkan tidak pernah hilang?”
Aku terdiam. Selama ini aku mengira Tuhan berada di puncak-puncak gunung, di kitab-kitab yang tebal, di doa-doa yang panjang. Padahal, Ia bersembunyi di dalam secangkir kopi yang mulai dingin, di wajah ibuku yang menua, di tubuhku yang perlahan menjadi debu.
Aku pernah mengetuk seribu pintu. Pintu ilmu. Pintu cinta. Pintu kemasyhuran. Sampai jari-jariku berdarah. Lalu dari dalam kesunyian terdengar suara: “Anak kecil, sejak kapan rumah mengetuk tamunya?”
Sejak itu aku malu.
Ternyata aku bukan pencari. Aku yang dicari. Ternyata aku bukan pejalan. Aku adalah jalan yang sedang dilalui. Ternyata aku bukan pecinta. Aku hanya surat yang belum selesai dibaca oleh cinta.
Malam-malam kemudian aku belajar menjadi kosong. Tidak mudah. Aku masih ingin dipuji. Masih ingin dianggap penting. Masih ingin namaku hidup lebih lama daripada tubuhku. Betapa lucunya. Debu ingin diabadikan oleh debu.
Aku tertawa. Langit ikut tertawa. Kuburan-kuburan yang diam itu mungkin juga sedang tertawa. Karena mereka tahu sesuatu yang belum kupahami: bahwa manusia sering menghabiskan umur untuk mempertahankan sesuatu yang bahkan tidak bisa ikut mati bersamanya.
Maka aku mulai melepaskan. Satu demi satu. Kesombongan yang kupanggil harga diri. Ketakutan yang kupanggil kewaspadaan. Luka yang kupanggil identitas. Dan ketika hampir tidak ada yang tersisa, aku melihat-Mu. Bukan sebagai cahaya. Bukan sebagai suara. Bukan sebagai mukjizat. Melainkan sebagai keheningan yang selama ini sabar menungguku selesai berbicara.
Kini aku mengerti. Surga bukan tempat yang jauh. Ia tumbuh setiap kali aku berhasil memaafkan.
Neraka bukan api yang menyala. Ia lahir setiap kali aku mengira diriku pusat semesta.
Dan Engkau… Engkau tidak pernah pergi ke mana-mana. Akulah yang sibuk berputar-putar mengelilingi bayanganku sendiri.
Hari ini aku datang tanpa doa yang indah. Tanpa kata-kata besar. Tanpa kesalehan yang ingin dipamerkan. Aku hanya membawa diriku yang retak. Karena ternyata, gelas yang pecah lebih mudah diisi cahaya daripada gelas yang sibuk membanggakan keutuhannya.
Jika suatu hari seseorang bertanya di mana aku menemukan Tuhan, aku akan menunjuk ke dadaku yang paling sunyi dan berkata: “Ketika aku berhenti mencarinya sebagai tujuan, aku menemukannya sebagai asal.”
