Pernah pada suatu masa, dunia pesantren dipandang sebelah mata. Dunia menganggap sistem pendidikan pesantren tradisional dan tertinggal. Sampai ada anggapan lulusan pesantren tak dapat melanjutkan pendidikan ke mana-mana, hanya berlaku di kalangan internal pesantren.
Banyak pula yang menganggap materi pendidikan pesantren kuno, jenjang pendidikannya tidak jelas dan terbatas. Tetapi lihatlah hari ini. Ada begitu banyak pesantren yang memiliki jenjang pendidikan lengkap, mulai pra-sekolah, sekolah dasar sampai perguruan tinggi.
Ada pesantren yang membuka jenjang pendidikan SMP dan SMA sains. Bahkan, sebelum ramai soal pentingnya penguasaan bahasa asing, pesantren Gontor di Jawa Timur misalnya, telah memulai program dwi bahasa (Arab-Inggris) sebagai bahasa sehari-hari santri sejak tahun 1926.
Lulusan pesantren pun kini banyak berkiprah di berbagai bidang profesi dan jabatan. Seluruhnya menjadi bukti bahwa pesantren mampu terus beradaptasi terhadap tuntutan dan perkembangan zaman, termasuk di dalamnya perkembangan teknologi.
Teknologi dewasa ini telah sampai pada masa yang kita kenal dengan era informasi digital. Ini adalah sebutan yang paling umum untuk menggambarkan periode saat ini, sejak sekitar tahun 1980-an dan masih berlangsung. Era ini ditandai dengan perkembangan pesat teknologi informasi, internet, komputer, dan digitalisasi yang mengubah cara manusia mengakses, menyimpan, dan berbagi informasi secara fundamental.
Pada salah satu puncak perkembangan teknologi hari ini, ada teknologi bernama artificial intelligence (AI) atau kecerdasan artifisial, kecerdasan buatan. Apa sebenarnya AI itu?
“Secara sederhana, artificial intelligence (AI) adalah sistem komputer yang dirancang untuk melakukan tugas-tugas yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia. Seperti memahami bahasa, mengenali gambar, mengambil keputusan, memprediksi, dan sebagainya,” demikian terang Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Buana Perjuangan Karawang, Dr. Hanny Hikmayanti Handayani, S. Kom., M. Kom.
Fase AI
Lebih jauh Dr. Hanny menambahkan bahwa perkembangan AI saat ini sudah masuk fase “infrastruktur baru”, bukan sekadar teknologi tambahan. Khususnya sejak munculnya generative AI dan large language models (LLM), AI bukan hanya mengotomasi tugas teknis, tetapi juga tugas-tugas kognitif: menulis, menganalisis data, membuat kode, desain, sampai menghasilkan gambar dan video.
Singkatnya, entitas bernama AI ini telah menjadi semacam realitas baru yang mengubah cara manusia mengerjakan dan menghasilkan sesuatu. Lalu, apa kaitannya dengan pesantren?
Dunia pesantren ibarat semesta tersendiri yang memiliki tata nilai dan tradisi yang khas. Keberadaanya telah teruji waktu. Mampu bertahan dan beradapatsi dengan segala perubahan zaman dan teknologi. Kini, ada “semesta lain” yang tengah “bersinar” dengan segenap kemajuan dan kemudahan teknologi: semesta digital. Bagaimana pesantren beradaptasi dalam semesta digital ini?
Sebagai sebuah lembaga pendidikan, sosial dan keagamaan, bahkan disebut sebagai soko guru pendidikan Indonesia, pesantren memiliki peran yang fundamental. Di sinilah tempat untuk menempa generasi penerus bangsa bermula. Pesantren berperan menyiapkan generasi yang adaftif terhadap perkembangan zaman. Sekaligus menurunkan nilai-nilai tradisi yang baik dan akhlak mulia.
Pengasuh Pondok Pondok Pesantren Al-Fathimiyah, Abah KH Mahpudin Ahmad menuturkan, “Pesantren harus adaptif. AI boleh membantu, tapi jangan sampai membuat santri kehilangan semangat belajar.”
Abah KH Mahpudin Ahmad menyoroti kemudahan teknologi seperti AI dapat menyebabkan ketergantungan bagi para santri bila tak cermat. “Kita menyambut positif perkembangan teknologi tersebut, selama santri menggunakannya secara bijak.”
Peran fundamental pesantren menyikapi AI ini adalah dengan tetap konsisten menjalankan fungsi sebagai sumber referensi nilai dan teladan, sesuatu yang selama ini telah menjadi ciri khas dunia pondok pesantren. Wallahu a’lamu bisshawwaab. (*)
Artikel di atas juga dipublikasi di Majalah Risalah Al-Fathimiyah edisi VI | Desember 2025, dan telah mengalami penyuntingan untuk keperluan SEO (Search Engine Optimization). Baca edisi online di sini.

