Suatu hari di akhir Oktober tahun ini, seorang teman alumnus sebuah pondok pesantren yang terkenal karena program dwi lingualnya, membuka percakapan.
“Ribut-ribut soal pesantren kemaren, gimana pendapat ente?” ujarnya dalam logat Betawi medok.
Karena yakin pertanyaan itu retoris belaka, saya balik bertanya. “Menurut ente pegimane?” tanya saya berusaha meniru logatnya yang hanya mengundang tawa dalam hati.
Kemudian, bercerita lah ia panjang lebar tentang pesantren, santri dan kiai.
Baca artikel berikutnya: Santri dan Kecerdasan Artifisial, Menjaga Keseimbangan dengan Nurani
Kata teman saya, polemik soal pesantren yang sempat menghebohkan Indonesia itu sebetulnya tidak perlu terjadi jika saja konten tentang santri yang berjalan ngesot, dan kiai yang turun dari “alphard” itu tak pernah ada di jagat maya. Menurut dia konten seperti itu sensitif dan rentan disalah-artikan.
Mengapa sensitif? “Ya buat kita para santri mudah memahami itu sebagai bentuk takzim kepada kiai sepuh yang kita akui keilmuannya, atau karena integritas pribadinya yang menjadi panutan. Tapi bagi orang di luar pesantren bisa berarti macam-macam,” ujarnya.
Dia lalu melanjutkan, “Ane sendiri sebetulnya risih ngeliat tayangannya. Zaman mondok dulu, kita nggak ngelakuin itu. Kita tetap takzim kalau mau menghadap kiai, tapi nggak sampai jalan ngesot. Kiai kita juga ngelarang. Dan semua kesadaran untuk takzim itu muncul sendiri dari hati kita. Bukan seperti dalam tayangan itu yang terkesan settingan cuma buat konten.”
“Jadi, yang salah yang ngerekam dan membagikan video itu dong?” tanya saya.
“Bukan salah, cuma berlebihan aja bikin konten kayak gitu. Cukup sebagai dokumentasi aja, ngga perlu di-sharing. Kalau mau di-share, edit dulu supaya kira-kira nggak menimbulkan narasi-narasi liar yang menyimpang dari maksud semula.”
Saya cuma bisa mengangguk-angguk, sambil bergumam dalam hati, “Ada benarnya juga sih sobat ane ini.”
Mari kita lihat dari sisi media digital dan penyebaran informasi. Ia ada benarnya saat mengatakan konten seperti itu sensitif dan rentan disalah-pahami, atau bahasa kerennya miskonsepsi.
FOMO dan Risiko Miskonsepsi
Setidaknya, miskonsepsi terjadi karena dua hal: (1) informasi yang tidak lengkap; dan (2) perbedaan konsep awal antara penyampai dan penerima informasi.
Untuk menghindari dua hal itu maka narasi yang kuat harus kita sertakan saat membagikan video. Bisa dalam bentuk sanggahan atau caption video yang menjelaskan secara rinci konteks konten video tersebut. Jagat maya adalah tempat di mana kadar literasi media orang sangat berbeda-beda. Maka kita tak dapat berharap semua orang akan mengerti dan memaklumi. Mereka yang malas membaca caption akan langsung menilai dan memvonis.
Berdasar kenyataan itulah maka pembuat dan penyebar video harus lebih peka untuk mengenali konten-konten mana yang sekiranya sensitif. Dan, sedapat mungkin menutup celah terjadinya miskonsepsi dengan tidak memaksakan diri membuat video-video kekinian yang niatnya mungkin baik untuk lebih mengenalkan kehidupan santri dan pesantren, tetapi malah menjadi bumerang bagi kiai dan pesantren itu sendiri.
Saya melihatnya agak jauh. Selain persoalan literasi media, ada juga andil gejala “FOMO” merasuki dunia pesantren. FOMO adalah singkatan dari fear of missing out. Secara sederhana berarti rasa takut ketinggalan tren. Muara dari FOMO ini adalah semangat ikut-ikutan. Apa saja akan menjadi konten demi memenuhi FOMO ini.
Menjaga Marwah Pesantren
Dalam konteks penyebaran video tentang pesantren, mereka yang “mengidap” FOMO tak menghiraukan apakah konten itu sensitif, apakah dapat mengurangi marwah lembaga bernama pesantren yang di dalamnya ada sosok ustadz, kiai, dan tata laku-nilai yang telah terjaga selama beberapa generasi. Ia hanya peduli yang penting bikin, yang penting ikutan upload, hanya supaya tidak ketinggalan tren.
Jika ini yang terjadi maka peristiwa ribut-ribut kemarin adalah peringatan serius bagi kalangan pesantren untuk lebih menata diri, terutama saat berkaitan dengan upaya penyebaran informasi melalui media kekinian.
Pesantren adalah institusi mulia. Marwahnya harus kita jaga. Utamanya dari konten-konten minim makna, terlebih yang dibuat hanya atas dasar semangat “FOMO” alias ikut-ikutan tren semata. Wallahu a’lamu bisshowwab.
Artikel di atas juga dipublikasi di Majalah Risalah Al-Fathimiyah edisi VI | Desember 2025, dan telah mengalami penyuntingan untuk keperluan SEO (Search Engine Optimization). Baca edisi online di sini.

