“Kalau ingin pintar, ngapalkeun sehari dua kali, sepulang sekolah dan pada malam hari setelah ngaji dan dengarkan serta pahami penjelasan guru di kelas”. Rangkaian kalimat tersebut masih terngiang di telinga, walaupun kejadiannya sudah berlalu 53 tahun yang lampau.
Adapun maksud ngapalkeun di sini bukan harus menghapal bacaan, tetapi cukup membaca dengan seksama.sehingga memahami isi bacaan. Dan apabila tidak memahami cukup berikan garis bawah serta bubuhkan tanda tanya. Gunanya sebagai pengingat untuk ditanyakan kepada guru pada saat jam pelajarannya nanti.
Lebih rinci lagi tentang ngapalkeun sebanyak dua kali, yaitu sepulang sekolah dan pada malam hari. Bahwa setiap pulang sekolah setelah makan siang harus membaca buku pelajaran, baik yang berupa buku bacaan maupun catatan pagi. Baca dengan seksama dan pahami kalimat demi kalimat sebagaimana penjelasan guru. Apabila masih belum paham, garis bawahi dengan pensil lalu bubuhkan tanda tanya di akhir kalimat tersebut.
Begitu pula apabila ada PR (pekerjaan rumah) atau bentuk tugas lainnya. Mengerjakannya pada waktu sepulang sekolah ini dan sebisa mungkin menyelesaikan pada saat itu juga.
Sedangkan kegiatan ngapalkeun di malam hari untuk membaca buku-buku mata pelajaran besok pagi. Dan menyelesaikan PR yang belum selesai atau mengoreksinya barangkali ada kekeliruan.
Cara belajarnya sama seperti pada siang hari sepulang sekolah, yaitu baca dan pahami kemudian garis bawahi dan berikan tanda tanya pada kalimat yang belum paham. Bedanya, kalau siang hanya mempelajari pelajaran tadi pagi di kelas. Sedangkan pada malam hari mempelajari bab sebelumnya dan bab pelajaran besok di kelas.
Manfaat “Ngapalkeun”
Dengan cara belajar seperti ini, setiap anak akan mempelajari materi pelajaran minimal sebanyak dua kali. Yaitu di malam hari sebelum pertemuan kelas dan di siang hari setelah pertemuan kelas. Manfaat lainnya adalah selalu siap dengan pertanyaan guru. Bahkan saya (penulis) di kelas mendapat julukan “Si Bawel” dari teman-teman karena banyaknya bertanya kepada guru, setiap pelajaran.
Dulu, anak melakukan kegiatan ngapalkeun ini hanya karena melaksanakan perintah dan menaati aturan orang tua dengan harapan agar menjadi anak pintar tanpa mengerti apa maksud perintah tersebut.
Kini baru mengerti bahwa hal itu tiada lain adalah membiasakan membaca dan memahami bacaan yang dikenal dengan istilah literasi. Dengan kata lain bagaimana bijaksananya orangtua dahulu untuk mengajarkan pembiasaan literasi sejak dini.
Berawal dari “dipaksa” membaca minimal dua kali sehari, lama-kelamaan menjadi biasa membaca dan akhirnya menjadi gemar membaca. Julukan “Kutu Buku” pun melekat karenanya. Pada tahapan ini, anak bukan hanya membaca buku pelajaran, tetapi telah meluas ke berbagai jenis bahan baca seperti buku dongeng, cerita rakyat Nusantara, komik, sejarah, sampai majalah dan surat kabar.
Karena seringnya membaca buku dongeng dan komik atau cergam (cerita bergambar), mulailah suka menulis cerita atau membuat cerita bergambar, dan salah satu mata pelajaran favorit sejak SD adalah pelajaran mengarang.
Selanjutnya, dengan banyaknya informasi hasil dari membaca, mulailah tahapan berikutnya dari kegiatan literasi yaitu bercerita atau menceritakan hasil membaca. Penulis mengalaminya saat di SMP (sekolah menengah pertama), banyak anak-anak di kampung senang karena seringnya bercerita.
Ketika siswa di sekolah mulai mengeenal mading atau majalah dinding, di tempat inilah salah satu media untuk menyalurkan kegemaran bercerita dan menulis. Puncaknya, ketika menjadi mahasiswa kegemaaran menulis ini disalurkan dengan menulis artikel di majalah, surat kabar dan buletin-buletin kampus. Dari aktivitas menulis di majalah dan surat kabar inilah di antaranya menjadi sumber dana untuk biaya kuliah. (*)
Oleh Ustadz Ir. Karyan Gunawan
Kepala SMK. Al-Fathimiyah periode 2010-2025
*Artikel di atas telah terbit di Majalah Risalah Al-Fathimiyah edisi V | Desember 2024, dan telah mengalami penyuntingan untuk keperluan SEO (Search Engine Optimization). Klik di sini untuk membaca versi digital (online).
