
Kata literasi tentu sudah tak asing di telinga kita. Di banyak media, pelatihan dan seminar misalnya, kata ini selalu menjadi topik utama. Lalu, apa sebetulnya makna literasi? Bagaimana menerapkan kata ini dalam kegiatan kita sehari-hari? Khususnya kegiatan santri dan aktivitas kepesantrenan.
Ada banyak referensi untuk memaknai kata literasi. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) misalnya, mendefinisikan literasi dengan tiga makna: (1) kemampuan menulis dan membaca; (2) pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu; dan (3) kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup.
Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau lazim kita kenal dengan singkatan UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) mendefinisikan literasi dengan kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, membuat, berkomunikasi dan menghitung, dan menulis bahan-bahan yang terkait dengan konteks yang berbeda-beda. UNESCO menjelaskan bahwa kemampuan literasi merupakan hak setiap orang dan merupakan dasar untuk belajar sepanjang hayat (kemdikbud.go.id).
Dari dua referensi makna literasi tadi, kita dapat menarik kesimpulan bahwa literasi adalah suatu kondisi atau tujuan untuk kita gapai bersama di mana tak ada lagi yang tak mampu baca-tulis, atau gagal paham terhadap informasi, peristiwa, kebijakan atau peraturan.
Dapat pula kita sebut bahwa literasi merupakan sebuah ikhtiar untuk mengentaskan buta aksara, dan upaya untuk menumbuh-kembangkan budaya baca-tulis dalam tradisi menuntut, mengamalkan dan menyebar-luaskan ilmu, pengetahuan, dan keterampilan.
Literasi Adalah Tradisi Pondok Pesantren
Dalam konteks itu, Pondok Pesantren Al-Fathimiyah telah memulai tradisi literasi, misalnya, dengan menerbitkan buletin “Risalah Al-Fathimiyah” sejak tahun 2004. Terbit sepekan sekali di hari Jumat. Sivitas akademik Al-Fathimiyah menjadi target pendistribusian.
Kala itu, proses penerbitannya masih sangat sederhana. Pengerjaannya tidak melalui software tata letak dan desain sebagaimana mestinya, tetapi hanya melalui software pengolah kata semisal Microsoft Word. Penggandaannya pun tidak dengan mesin cetak besar, tetapi dengan mesin duplicator risograph, mirip mesin fotokopi saat ini.
Apapun itu, dengan kesederhanaan yang ada, Al-Fathimiyah mampu menerbitkan buletin “Risalah Al-Fathimiyah” secara reguler. Bahkan pendistribusiannya tak hanya untuk kalangan internal Al-Fathimiyah, melainkan juga ke masjid-masjid di sekitar Pondok Pesantren Al-Fathimiyah untuk dibaca jamaah sholat Jumat.
Dalam buletin “Risalah Al-Fathimiyah” yang hanya terdiri dari selembar kertas HVS lipat dua sehingga menghasilkan empat halaman buletin, antara lain berisi mengenai tulisan seputar tema-tema aktual. Ada juga rubrik “Aswaja” yang membahas tentang amaliyah ke-NU-an dari sisi hadits, fikih, dan ibadah. Juga rubrik “Humor Santri” yang berisi joke-joke khas dunia pesantren.
Dalam penggarapannya melibatkan sivitas akademik Al-Fathimiyah. Misalnya, mengundang guru untuk menulis dengan tema tertentu. Siswa juga dapat mengirimkan karya berupa cerita pendek, puisi, gambar karikatur, komik, grafiti, dan sebagainya.
Literasi dan Ikhtiar Merawat Kultur Akademik
Penerbitan buletin “Risalah Al-Fathimiyah” mulai tahun 2004 adalah contoh betapa Al-Fathimiyah sesungguhnya telah berikhtiar untuk menghidupkan kultur akademik sejak awal. Hari ini, tugas kita bersama adalah merawatnya.
Tradisi akademik itu terus berlanjut. Sampai pada pertengahan tahun 2012, Al-Fathimiyah memutuskan untuk menerbitkan sebuah majalah. Nama majalah disepakati serupa dengan nama buletin, yakni “Risalah Al-Fathimiyah”. Maka kemudian di bulan Desember 2012, terbit edisi perdana “Majalah Risalah Al-Fathimiyah”.
Berbeda dengan versi buletin, “Majalah Risalah Al-Fathimiyah” edisi perdana terbit sebanyak 54 halaman. Lebih banyak rubrik dengan tema yang variatif. Dengan sendirinya, untuk mengantisipasi penambahan jumlah halaman dan rubrik, maka lebih banyak sivitas akademik Al-Fathimiyah yang dilibatkan.
Sesungguhnya tak hanya media cetak yang diterbitkan Al-Fathimiyah. Media elektronik pun telah digarap. Pondok Pesantren Al-Fathimiyah memiliki website, dan beberapa media sosial kekinian semisal Tiktok, Instagram, Youtube, dan Facebook. Seluruhnya adalah bagian dari ikhtiar merawat kultur akademik Al-Fathimiyah. Mudah-mudahan bermanfaat. Wallahu a’lam bisshowab. (*)
*Artikel di atas telah terbit di Majalah Risalah Al-Fathimiyah edisi V | Desember 2024, dan telah mengalami penyuntingan untuk keperluan SEO (Search Engine Optimization). Klik di sini untuk membaca versi digital (online).
