santri-dan-ai
Nurani bertanggung jawab mengingatkan bahwa ada akibat di ujung perbuatan. Nurani bekerja secara otomatis sebagai hasil dari hati yang selalu merasa diawasi, bahwa ada Yang Maha Tahu yang menyaksikan dan mencatat segala sesuatu.

Setelah memeluk agama Islam kemudian berkomitmen menjalankan setiap kewajiban dan menjauhi larangan agama, seorang muslim akan naik ke tahap keislaman berikutnya, yaitu ihsan.
Ihsan adalah sebuah kondisi di mana kita secara sadar dan utuh melakukan segala sesuatu semata-mata karena Allah.

أَن تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Artinya: “…Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tak mampu melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Muslim)

Ada dialog dalam hati orang-orang yang telah ber-ihsan, antara ia dengan nuraninya tentang sesuatu yang pantas, tentang yang baik, dan tentang kadar keikhlasan.

Nurani atau suara yang berasal dari hati kecil adalah benteng terakhir yang dapat menyaring tindakan-tindakan manusia. Nurani pula yang bertanggung jawab mengingatkan bahwa ada akibat di tiap ujung perbuatan. Nurani bekerja secara otomatis sebagai hasil dari hati yang selalu merasa diawasi, bahwa ada Yang Maha Tahu yang menyaksikan dan mencatat segala sesuatu.

Jika tak ada nurani ini, manusia akan melakukan apapun untuk memenuhi keinginannya, Tak peduli bila aksinya bisa saja melukai orang lain, menyakiti hati saudaranya, menimbulkan fitnah. Bahkan dapat menyesatkan orang lain dengan apa yang secara gamblang ia kemukakan dan sampaikan di hadapan umum.

Dalam konteks inilah bagaimana seharusnya santri menyikapi perkembangan teknologi digital kecerdasan artifisial (artificial intelligence-AI). Bahwa saat ujung jarimu dapat membuat konten apa saja, jangan lupa menyisakan sedikit ruang untuk bertanya pada hati nurani sebelum membagikannya ke publik: apakah ini pantas bila aku bagikan? Kira-kira ada yang sakit hati tidak ya? Apakah yang aku sampaikan ini sudah valid?

Seluruh perbuatan umat Islam pada hakikatnya adalah ibadah. Sebagaimana firman Allah SWT:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Artinya: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS Az-Zariyat: 56)

Dengan memahami “kontrak” antara hamba dengan Sang Khalik ini, maka seyogyanya tidak ada lagi perbuatan seorang muslim yang sia-sia, apalagi untuk menyebarkan sesuatu yang tidak hanya tak berguna tetapi juga dapat membawa mudarat bagi orang lain.

Kita bisa memetik hikmah dari video viral Menteri Keuangan RI saat itu, Sri Mulyani, yang menyebut bahwa guru dan dosen sebagai beban negara. Video ternyata hoaks deepfake (pembuatan video palsu menggunakan AI). Sebelum ada klarifikasi, video itu terlanjur direspon banyak orang dengan saling memaki, dan turut memanaskan kondisi negeri, hingga rumah sang menteri menjadi salah satu target pada kerusuhan Agustus-September 2025 lalu.

Selain bertanya pada nurani, setiap muslim juga harus ingat bahwa seluruh anggota tubuh kita nanti akan dimintai pertanggung-jawaban. Allah berfirman:

اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلٰٓى اَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ اَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ اَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Artinya: “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (QS Yaasin: 65)

Dengan segala kemudahan yang disediakan teknologi AI, man behind the gun tetaplah menjadi sesuatu yang penting, yang seharusnya memegang kendali. AI hanyalah sekadar tool, alat yang kita gunakan untuk mempermudah. Ia mirip dengan pisau, bisa sangat berbahaya bila berada di tangan yang salah.

Para santri dengan segenap nilai yang diajarkan di pesantren tentang kroscek informasi (tabayyun) dan kerendahan hati (tawadhu’), seyogyanya tidak mudah membagikan sesuatu sebelum tahu kesahihannya. Dan selalu menimbang baik-buruk, kepatutan, dan apakah akan berdampak terhadap nama baik dan keselamatan jiwa dan raga orang lain, sebagaimana ia ingin kehormatan, jiwa serta raganya juga terjaga dan selamat. Demikian, mudah-mudahan bermanfaat. Wallahu a’lamu bisshowwaab. (*)

Diposting Oleh:

penerimaan santri baru