Artificial Intelligence (AI) dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki padanan kata kecerdasan buatan atau kecerdasan artifisial. Maknanya: program komputer dalam meniru kecerdasan manusia, seperti mengambil keputusan, menyediakan dasar penalaran, dan karakteristik manusia lainnya.
Dewasa ini, AI menjadi sesuatu yang populer. Pada tahun 2023, Badan Bahasa menobatkan kecerdasan artifisial atau kecerdasan buatan sebagai Kata Tahun Ini (KTI). Pertimbangannya, kata tersebut sangat populer dan menggambarkan fenomena yang terjadi di masyarakat. Lalu, bagaimana sejarahnya hingga AI ramai dan menjadi fenomena.
Untuk merunut sejarah Artificial Intelligence, kita flashback ke tahun 1990. Di tahun itu, grup musik Nasida Ria merilis lagu berjudul “Tahun Dua Ribu“. Lagu kasidah ini bercerita tentang keadaan kehidupan manusia di tahun 2000, di mana sebagian besar aktivitas manusia tergantikan mesin. Berikut penggalan liriknya:
Tahun 2000, kerja serba mesin
Berjalan berlari menggunakan mesin
Manusia tidur berkawan mesin
Makan dan minum dilayani mesin
Mengutip laman Artificial Intelligence Center Indonesia (AICI; aici-umg.com), sejarah artificial intelligence terbagi menjadi empat periode, yakni: (1) era optimisme; (2) era musim dingin AI; (3) era kebangkitan; dan (4) era modern.
Baca artikel lainnya: Peran Santri di Era Milenial
Era Optimisme (1950 – 1970-an)
Membicarakan sistem komputer modern, kita tak dapat melupakan nama Alan Turing (1912-1954). Ia adalah peneliti komputer modern digital pertama. Dia juga merupakan orang pertama yang berpikir menggunakan komputer untuk berbagai keperluan. Pada tahun 1950, Alan Turing memperkenalkan konsep “The Turing Test” atau Uji Turing. Ini adalah sebuah tes untuk menentukan apakah sebuah mesin dapat meniru perilaku manusia hingga tak terbedakan. Uji ini menjadi dasar bagi pengembangan AI di masa-masa awal.
Pada tahun 1956, konferensi Dartmouth menjadi penanda lahirnya AI sebagai kajian akademis. Para ilmuwan berkumpul dengan optimisme tinggi. Mereka percaya mampu menciptakan mesin cerdas dalam beberapa dekade. Namun, realisasinya ternyata lebih rumit dari yang mereka bayangkan.
Era ini juga menjadi saksi lahirnya sistem ahli. Sebuah program yang mampu meniru kemampuan pengambilan keputusan manusia dalam bidang tertentu. Selain itu, konsep jaringan syaraf tiruan juga mulai diperkenalkan. Syaraf tiruan ini coba meniru cara kerja otak manusia dengan menghubungkan unit-unit sederhana yang menyerupai neuron.
Pada era ini juga terdapat nama John McCarthy. Pada tahun 1956 ia mengenalkan istilah artificial intelligence. Meski demikian, pengembangan AI merupakan hasil kerja dari banyak ilmuwan dan peneliti selama bertahun-tahun. McCarthy dikenal sebagai salah satu pelopor AI dan dianggap sebagai “bapak AI” karena perannya dalam memperkenalkan istilah tersebut dan memimpin penelitian awal di bidang ini.
Era Musim Dingin AI (1970 – 1990-an)
Harapan besar yang menyelimuti sejarah AI di awal mulai meredup ketika kemajuan yang dijanjikan tidak kunjung terwujud. Pendanaan menurun, dan para peneliti mulai meninggalkan bidang ini. Musim dingin AI adalah periode stagnasi yang membuat banyak orang skeptis terhadap masa depan AI.
Namun, beberapa ilmuwan terus bekerja di balik layar. Mengembangkan algoritma yang lebih canggih dan perangkat keras yang lebih kuat. Penemuan baru dalam pembelajaran mesin dan peningkatan kapasitas komputasi mulai menyalakan kembali harapan akan AI.
Era Kebangkitan (1990 – 2010-an)
Pada tahun 1997, komputer Deep Blue milik IBM mengalahkan juara catur dunia Garry Kasparov. Kemenangan ini menandai momen penting dalam sejarah AI. Kejadian tersebut menunjukkan bahwa mesin bisa mengalahkan manusia dalam permainan strategi yang kompleks.
Masuknya era internet dan ketersediaan data besar memberikan dorongan besar bagi pengembangan AI. Algoritma pembelajaran mesin yang lebih canggih memungkinkan komputer untuk belajar dari data dengan cara yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Peningkatan ini membawa AI ke dalam berbagai aspek kehidupan, dari pencarian web hingga pengenalan wajah.
Era Modern (2010-an hingga Kini)
Era ini ditandai dengan hadirnya beberapa hal yang mengubah secara signifikan cara manusia berinteraksi dan berkomunikasi dengan komputer. Antara lain world wide web (www), internet of things (IoT), dan deep learning.
Teknik deep learning menjadi tulang punggung kemajuan AI modern. Dengan jaringan syaraf tiruan yang lebih dalam dan kompleks, AI kini mampu melakukan tugas-tugas seperti pengenalan gambar, pemrosesan bahasa alami, dan bahkan mengemudikan mobil tanpa pengemudi.
Kini, AI hadir di mana-mana. Dari asisten virtual seperti Siri dan Alexa hingga algoritma rekomendasi di platform streaming, AI telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari kita. Kemajuan dalam sejarah AI ini tidak hanya mengubah cara kita berinteraksi dengan teknologi, tetapi juga membuka pintu bagi inovasi di berbagai sektor industri. (*)
