Di Ujung Asa

“Ada yang bisa diperbaiki oleh waktu, tetapi tidak dengan seseorang yang terlalu lama kita biarkan menunggu.”

arga_yaspiyah

Hujan mempertemukan Arga dan Laras di depan sebuah toko buku. Sambil berteduh, mereka berbincang tentang hal-hal sederhana hingga hujan reda.

“Hujan saja diberi waktu untuk berhenti,” kata Laras, “manusia kadang tidak.”

Arga tertawa kecil. Sebelum berpisah, mereka bertukar nomor telepon. Tak satu pun menyangka pertemuan itu akan menjadi awal kisah yang kelak sulit terlupakan.

Mereka jatuh cinta melalui hal-hal sederhana: pertemuan setiap Jumat di kafe kecil, pesan sebelum tidur, dan mimpi-mimpi yang mereka bangun bersama. Laras ingin memiliki ruang baca untuk anak-anak, dengan jendela lebar dan rak-rak kayu.

“Suatu hari kita buat,” janji Arga.

Mereka membayangkan rumah kecil, halaman berbunga, dan makan malam bersama. Suatu malam, Laras bertanya, “Kalau nanti hidupmu semakin sibuk, kamu masih punya waktu untukku?”

Arga menatapnya lekat. “Aku akan selalu ada.”

Laras percaya.

—

Ayah Arga jatuh sakit. Tanggung jawab keluarga dan pekerjaan membuat hidupnya berubah. Ketika mendapat tawaran kerja di luar kota, ia menerimanya demi masa depan yang ingin ia bangun bersama Laras.

Namun, semakin sibuk Arga mengejar masa depan, semakin jauh Laras tertinggal. Pertemuan mereka dibatalkan, pesan terlambat dibalas, dan telepon sering tak terangkat.

“Aku tahu kamu sedang berjuang,” kata Laras suatu malam di ujung telepon. “Hanya ingin merasa masih menjadi bagian dari hidupmu.”

“Aku melakukan semua ini untuk masa depan kita.”

“Aku tidak memintamu berhenti berjuang. Cuma ingin sesekali kamu bertanya apakah aku baik-baik saja.”

Arga terdiam.

Arga dan Laras

Pada hari wisuda Laras, Arga berjanji hadir. Hari itu juga direncanakan sebagai pertemuan kedua keluarga mereka. Namun, pekerjaan menahannya hingga acara selesai.

Malamnya, Laras berkata melalui telepon, “Aku terus mencari alasan agar tidak merasa ditinggalkan. Tapi aku lelah memahami seseorang yang tak pernah benar-benar hadir.”

“Aku hanya butuh sedikit waktu lagi.”

“Aku sudah memberimu waktu, Ga. Yang tidak pernah kamu berikan adalah kehadiranmu.”

—

Seminggu kemudian, mereka bertemu di kafe yang sama.

“Aku percaya kamu mencintaiku,” kata Laras, menahan air mata. “Tapi aku tidak bisa terus hidup dari janji tentang hari esok, sementara hari ini aku selalu sendirian.”

“Aku melakukan semuanya untuk kita.”

“Dan aku kehilangan kita saat kamu melakukannya.”

Laras pergi tanpa menoleh. Arga tidak mengejarnya. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa Laras telah terlalu lama menunggu.

—

Setahun berlalu. Ayah Arga membaik, pekerjaannya mapan, tetapi kesunyian tetap tinggal. Suatu malam, ia menemukan secarik kertas dalam kotak kenangan mereka.

“Jangan lupa bahagia, bahkan ketika aku tidak ada di dekatmu.”

Tak lama kemudian, surat Laras tiba. Ia bercerita tentang pekerjaannya sebagai guru dan sudut baca kecil yang sedang dibangunnya.

“Rak bukunya sudah terpasang. Jendelanya juga cukup lebar. Aku rasa kamu akan menyukainya.”

Sore itu, Arga kembali ke kafe mereka. Hujan turun seperti hari pertama mereka bertemu. Ia memesan dua cangkir teh, lalu duduk menghadap kursi kosong di seberangnya.

Dulu, ia selalu takut tidak punya cukup waktu untuk Laras. Kini, waktu terasa begitu panjang, dan tak ada lagi yang bisa ia kejar.

Arga mengeluarkan surat Laras dari saku. Ia membacanya sekali lagi, berhenti pada kalimat tentang jendela lebar di ruang baca itu. Ia membayangkan Laras berdiri di sana, tersenyum di antara rak-rak buku—menjalani mimpi yang pernah mereka bangun bersama.

Hanya saja, dalam bayangan itu, tak ada tempat untuknya.

Pelayan datang membawa tagihan. Arga menatap cangkir di hadapannya, lalu mendorongnya perlahan ke sisi meja. Teh itu masih utuh.

Di luar, hujan mulai reda. Arga melipat surat itu dan menyimpannya kembali. Sebelum melangkah pergi, ia menoleh ke kursi kosong untuk terakhir kalinya.

“Seharusnya aku datang,” bisiknya.

Namun, hanya bunyi hujan yang menjawab.

Arga pun pergi, meninggalkan dua cangkir di meja dekat jendela. Satu telah kosong. Satu lagi tak pernah disentuh.

“Ada yang bisa diperbaiki oleh waktu, tetapi tidak dengan seseorang yang terlalu lama kita biarkan menunggu.”

Diposting Oleh:

iklan_majalah_risalah