makan_atau_sholat_dulu
Shalat atau makan? Ada pendapat bahwa shalat harus didahulukan, karena itu kewajiban utama bagi seorang muslim. Tapi ada pendapat lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi umat Islam, seringkali muncul pertanyaan yang meresahkan, “shalat dulu atau makan dulu?” Kita bisa melihat problem ini dari perspektif yang berbeda. Sebagian orang berpendapat bahwa shalat dulu, karena itu kewajiban utama seorang muslim. Tapi ada pula yang berpendapat bahwa lebih baik makan terlebih dahulu agar bisa shalat dengan khusuk.

Kedua pendapat di atas bukan hanya sekadar urusan perut atau ibadah saja, melainkan pembahasan bagaimana Islam memberikan posisi antara kebutuhan jasmani dan ketenangan ruhani, karena terkadang kita merasa bersalah ketika memilih makan dulu daripada shalat, seolah-olah kita lebih mementingkan urusan dunia daipada akhirat. Benarkah demikian? Lalu, mana yang lebih tepat, shalat dulu atau makan dulu?

Ternyata persoalan seperti ini termaktub dalam hadits Rasulullah SAW riwayat Imam Bukhari no. 673 dan Imam Muslim no. 559, Beliau bersabda:

إِذَا وُضِعَ العَشَاءُ، وَأُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، فَابْدَءُوا بِالْعَشَاءِ، وَلَا تَعْجَلُوا عَنْ عَشَائِكُمْ‏.‏

Artinya: “Apabila makan malam telah disajikan, maka dahulukan makan malam sebelum shalat maghrib. Dan jangan tergesa-gesa dalam makan kalian”

Dari ini hadits ini memberikan pengertian bahwa jika ada makanan yang sudah tersedia dan kita sudah lapar, maka dianjurkan untuk makan terlebih dahulu, setelah itu baru melaksanakan salat. Hal tersebut karena syariat Islam memahami fitrah manusia; orang yang lapar sulit untuk khusuk dalam beribadah, apalagi jika makanan sudah tersedia. Konsentrasi akan terganggu dan shalat pun akan tergesa-gesa. Sudut pandang ini berlaku ketika waktu shalat masih cukup panjang dan makan bukan alasan untuk tidak melaksanakan shalat. Ketika waktu shalat tidak cukup panjang, maka sebaiknya shalat terlebih dahulu.

Memang Rasulullah memperbolehkan makan terlebih dahulu, tapi bukan berarti kita boleh mengabaikan shalat atau malah menundanya hingga waktu shalat telah habis. Mendahulukan makan bukanlah bentuk meremehkan shalat, justru itu bentuk usaha menjaga kualitas ibadah. Begitupun sebaliknya, kita jangan memaksakan shalat dalam kondisi tubuh lemah atau lapar sehingga metabolisme tubuh menurun dan dapat menganggu kekhusyukan dalam shalat

Dalam Syarh Shahih Muslim jilid 5 halaman 6Imam Nawawi menyatakan:

“Disunnahkan untuk mendahulukan makan malam terlebih dahulu jika telah hadir, meskipun waktu shalat telah masuk, agar seseorang bisa shalat dengan hati yang tenang”

Psikologi Ibadah

Shalat dalam keadaan lapar seringkali hanya menjadikan gerakan fisik tanpa adanya kekhusyukan batin. Ketika makanan telah tersedia, tapi kita lapar dan melaksanakan shalat, maka pikiran kita akan sibuk membayangkan makanan, apakah ini khusyuk? Jelas tidak. Padahal syariat memberikan ruang untuk menyelesaikan kebutuhan dasar terlebih dahulu agar bisa beribadah dengan tenang, bukan menyiksa diri menahan lapar. Dalam dunia modern, sudut pandang psikologi ibadah pun sangatlah penting. Ketika seseorang menahan lapar, kadar gula darahnya akan menurun, ini akan berdampak pada fokus dan emosi. Itulah sebabnya orang yang lapar akan mudah marah, gelisah dan sulit berkonsentrasi.

Maka kita harus bisa menjaga keseimbangan dengan mempersiapkan waktu sebaik mungkin. Jika ada makanan yang tersedia dan dekat dengan waktu shalat, usahakan makan dengan secukupnya terlebih dahulu. Lalu lanjutkan shalat, karena jika kita makan dengan berlebihan pasti akan malas untuk melaksanakan shalat. Tapi jika memang tidak terlalu lapar dan juga tidak ada makanan yang tersedia shalatlah terlebih dahulu. Makan dulu bukan berarti mendahulukan dunia daripada akhirat, tetapi justru menjaga agar melakukan ibadah akhirat tidak setengah hati. Dan juga bukan menunda ibadah tapi mempersiapkan diri agar ibadah itu benar-benar bermakna.

Kesimpulannya adalah boleh makan terlebih dahulu dengan catatan, waktu shalat masih panjang, makanan pun telah tersedia dan perut sudah lapar. Boleh juga shalat terlebih dahulu jika perut belum lapar, dan makanan juga belum tersedia. Hal ini perlu perhatian karena ibadah bukan hanya tentang waktu, tapi juga tentang kesadaran, ketenangan dan kehadiran hati. (*)


Sumber: Tebuireng Online

Link

Diposting Oleh:

penerimaan santri baru