Dunia pendidikan kita kembali heboh. Bukan karena berita tentang prestasi, melainkan kabar tentang aksi kekerasan fisik antara murid dan guru. Peristiwa tak sedap ini memantik pertanyaan: ada apa dengan dunia pendidikan kita?
Artikel berikut ini patut menjadi semacam refleksi. Sebuah upaya untuk mencari benang merah. Bukan untuk mencari kambing hitam. Ini sekadar upaya meletakkan cermin di hadapan kita semua. Selamat membaca.
Berita viral siswa mengeroyok guru bukan lagi sekadar “kenakalan remaja”. Ini adalah alarm tanda bahaya bahwa peradaban kita sedang “sakit”. Kita sering bertanya “Kok bisa?”. Padahal kalau kita mau jujur membuka mata, bibit-bibit kekerasan ini sudah lama kita siram setiap hari.
Berikut 5 alasan “pedas” mengapa tragedi ini bisa terjadi (dan mungkin akan terulang jika kita tidak sadar):
Sindrom “Anak Raja”, Orang Tua “Bodyguard”.
Banyak orang tua zaman now yang menitipkan anak ke sekolah dengan mentalitas laundry. Terima beres, harus bersih, wangi, dan rapi. Kalau ada “noda” sedikit, pemilik laundry (guru) yang jadi sasaran. Saat guru menegur anak, orang tua datang bukan untuk introspeksi, tapi invasi. Anak merasa punya “beking” kuat. Akibatnya? Rasa hormat pada guru luntur, berganti menjadi arogansi karena merasa “Ayahku akan membelaku, salah atau benar.”
Tameng “HAM” yang Kebablasan.
Hak Asasi Manusia itu mutlak, tapi sering kali miskonsepsi menjadi “Hak Asal Melawan”. Zaman dulu, pukulan halus via penggaris adalah didikan mental. Zaman sekarang, tatapan mata guru yang tajam saja bisa berarti bullying verbal. Siswa (dan masyarakat) makin kritis menuntut hak, tapi amnesia soal kewajiban. Atas nama perlindungan anak, kita justru melucuti wibawa guru hingga telanjang. Guru mau mendidik jadi ragu, mau menegur jadi takut. Akhirnya? Pembiaran.
Generasi “FYP” yang Miskin Empati.
Kita sedang membesarkan generasi yang validasi dirinya berdasarkan views dan likes. Bagi sebagian remaja, kekerasan bukan lagi aib, tapi “konten”. Mereka menganggap mengeroyok guru adalah pembuktian maskulinitas atau cara instan biar viral. Logika mereka tumpul karena terbiasa melihat kekerasan di game dan media sosial sebagai hiburan. Adab dikesampingkan demi panjat sosial.
Sekolah: Pabrik Nilai, Bukan Bengkel Moral.
Mari jujur pada sistem kita. Sekolah sering kali terlalu sibuk mengejar target kurikulum, akreditasi, dan deretan angka di rapor. Pendidikan karakter? Seringnya cuma jadi slogan di spanduk gerbang sekolah atau formalitas di atas kertas RPP. Kita sibuk mencetak anak pintar, tapi lupa mencetak manusia beradab. Akibatnya, lahirlah individu cerdas secara kognitif, tapi buta aksara secara moral.
Hilangnya “Sakralitas” Hubungan Guru-Murid.
Dulu, guru adalah orang tua kedua. Sekarang? Ada anggapan guru hanya sebatas “penyedia jasa pendidikan” yang mendapat upah dari SPP. Hubungan transaksional ini mematikan rasa segan. “Saya sudah bayar mahal, Bapak harus melayani saya, bukan mengatur saya!” Ketika tak lagi menganggap guru sebagai pelita, tapi hanya sebagai buruh pengajar, maka tak ada lagi rasa berdosa memukul guru, tapi sekadar meluapkan emosi pada “bawahan”.
Renungan kita bersama: Jika guru sudah takut mengajar dan murid bangga menjadi kurang ajar, lantas masa depan seperti apa yang sedang kita siapkan untuk bangsa ini? Jangan sampai kita baru sadar saat sekolah bukan lagi tempat mencari ilmu, tapi jadi ring tinju. (*)
Sumber: Khairul Fadly
*Artikel di atas telah mengalami penyuntingan untuk keperluan SEO (Search Engine Optimization)
